Pemkot Samarinda Lakukan Studi Kelayakan Pembangunan Kereta Api di 2024

Bagikan :

Mahakata.com – Pemkot Samarinda berencana membangun jalur kereta api sepanjang 29,16 kilometer di Kota Tepian.

Rencana pembangunan kereta api ini akan menghubungan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, menuju Bandara APT Pranoto, Kecamatan Samarinda Utara.

Pemkot Samarinda memproyeksi, rencana jalur kereta api ini di mulai dari Loa Buah, menyusuri Tepian Sungai Mahakam hingga ke Jalan Gajah Mada, kemudian menuju Bandara APT Pranoto.

Hero Mardanus, Sekretaris Kota (Sekkot) Samarinda, mengatakan rencana ini merupakan bentuk realisasi dari 10 program unggulan wali kota.

Menurutnya, Samarinda terus berbenah. Dari awal kepemimpinan Andi Harun, APBD yang semula Rp2,8 triliun terkerek hingga Rp5,2 triliun. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan lebih tinggi.

“Diperkirakan pembangunan kereta api ini memerlukan anggaran sekitar Rp2,3 triliun,” kata Hero.

Sementara itu, Kepala Dishub Samarinda Hotmarulitua Manalu menyebut, kegiatan ini untuk merencanakan pembangunan monorel.

Nantinya tahapan dilanjutkan studi kelayakan (feasibility study) dengan memakan waktu 8–9 bulan.

Dilanjutkan survei, investigasi dan desain (SID) yang didahului SK penetapan mengenai trayek atau rute kereta.

SK itu berdasarkan kajian yang diusulkan dalam bentuk rekomendasi dari wali kota kepada gubernur yang disetujui Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Setelah itu, disusun dokumen analisis dampak lingkungan (amdal) hingga detail engineering design (DED).

“Paling cepat 2030–2031 untuk bisa beroperasi karena memang banyak tahapan yang diperlukan,” ungkapnya.

Manalu menjelaskan rencana pembangunan kereta ini diharapkan dapat memudahkan akses masyarakat, serta turut meningkatkan perekonomian.

“Kami akan duduk bersama dengan maskapai agar memperbanyak rute di Samarinda, karena daerah ini merupakan penghubung dengan kabupaten/kota lain. Misalnya Bontang, Kutim, Kukar, Kubar, dan Mahulu,” jelasnya.

Ketika memang belum layak secara finansial, menurutnya, bisa saja operator ditawarkan ke PT KAI dengan skema PSO. Nanti dicarikan skema untuk pengelolaan.

“Tahun depan diusulkan Rp1,5 miliar untuk FS di 2024,” tegasnya. (*)

Leave a Reply