menu

Malam & Hujan

huruf dirangkai menjadi kata.
kemudian ku rajut menjadi untaian kalimat.

terbentang sepanjang kertas,
memenuhi kuota harian bait-bait acak yang terlintas di kepala,
rentetan kata dalam fenomena,
terbentang sejauh cakrawala sukma,

sebagai manifestasi impian dan kenangan yang tercampur dalam ruang jiwa yang terkadang liar,
pena dan goresan sebagai pengendali rasa,
sajak-sajak yang tak pernah terjemahan.

memanggil dengan gagu pada seorang yang memang tuli.
rangkaian ini bukanlah sabda Tuhan yang mutlak menulis tragedi.
Ini hanyalah pesan yang lewat seperti angin berlalu,
lambat laun terhapus seiring dimensi waktu berlalu…

Yogyakarta, April 2020


Halo kegelapan, kita bertemu lagi,
dalam senyap kau menawarkan sesuatu,
kilauan harta, megahnya tahta,
gemerlap kuasa, apa lagi?

tapi maaf saja, apapun itu,
mataku dapat melihat mu dengan jernih,
andaikan diriku berhasil kau kekang,
dimensi ku tak mampu kau jamah,
aku akan selalu bebas, dalam naungan rahmat,
mataku akan selalu tajam.

Yogyakarta, April 2020


Hujan mendengar bait-baitku,
Menyiramku dengan sejuknya rahmat,
Sunyi pun sirna tergantik gemericik air yang terjun dari angkasa,
Menemani do’a do’a yang terpanjat…
menuju pagi yang hendak menyapa…

Yogyakarta, April 2020


Aku tidak tahu pesan apa yang harus kusampaikan.
Rintik-rintik hujan itu menghakimi dari setiap tetes yang menerjang jiwa dingin tak berhati,
Sayatan demi sayatan meneteskan darah mewarnai bening air dengan senyum di akhir senja,
sunyi senyap menyelimuti jalan yang tidak berujung,
Memastikan sukma terbungkam karena pintu sudah ditutup rapat bagi tetesan hujan di tanah lembab.
Rembulan pergi, karena mentari menutup sinarnya.
6 jantung yang dikorbankan pun tak mampu membuai luka-luka sayatan,
dihempaskan dalam gulita,
tanpa nurani,
dan hanya ditemani sepi dan putus asa…

Yogyakarta, April 2020


Terimalah dirimu Diatas tanah dipijak.
Dibawah langit menaungi.
Dalam kenangan yang terlelap.
Diantara waktu yang berlalu,
takdir bukanlah rentetan huruf yang dapat dirangkai,
takdir merupakan alur garis yang dapat dibentuk,
takdir tak dapat ditulis,
tetapi takdir dapat diwarnai,
tetaplah terlelap dalam memori,
hujan badai kemarin sore.

Yogyakarta, April 2020


Malam sunyi,
Mata terbuka,
Fikiran merangkai,
Bait doa melayang,
Diam…
sudah malam,
biarkan tenggelam dalam mimpi,
dalam tubuh lemas tak berdaya,

Yogyakarta, April 2020


Walau gelap malam menyelimuti.
Dingin hati menusuk,
Wabah diam mengintai,
Masa lalu menikan,
Masa depan mengusik,
Waktu berdetik,
Jantung berdetak, Hidup harus tetap berjalan,
Dalam sunyi,
Menerima diri,
Bersiap menikam,
Dalam kegelapan,
Tanpa damai dalam bayang-bayang tipuan…

Yogyakarta, April 2020


account_circle